Senin, 12 September 2022

KEBOHONGAN YANG DILEGALKAN OLEH PENGUASA

 


"KEBOHONGAN YANG DILEGALKAN OLEH PENGUASA"


Al Kisah, Abu Nawas sedang berjalan di tengah pasar.

Dia melihat ke dalam topinya dan  penuh bahagia. 

Orang-orang pun heran, lalu bertanya; 

Orang : “Hai Abu Nawas, apa yang kamu lihat ke dalam topimu itu yang membuatmu tersenyum bahagia ...???”

Abu Nawas : “Aku sedang melihat Surga yang dihiasi barisan bidadari yang cantik nan menawan (dengan ekspresi meyakinkan)."

Seseorang : "Coba aku lihat...?”

Abu Nawas : "Tapi saya tidak yakin kamu bisa melihat seperti apa yang saya lihat.”

Orang-orang :“Mengapa ....?".  (serempak, karena sama-sama semakin penasaran)  

Abu Nawas : “Karena hanya orang yang  beriman saja dan shalih yang bisa melihat Surga dan bidadarinya di topi saya ini"

Seseorang : "Coba aku lihat ....!!"

Abu Nawas ; “Silahkan” 

Orang itu pun melihat ke dalam topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang-orang di sekelilingnya dan berkata : "benar-benar aku melihat surga dan bidadari, luarbiasa” dengan penuh kagum.

Orang-orang pun heboh ingin menyaksikan Surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas, tetapi Abu Nawas mewanti-wanti, bahwa hanya orang-orang yang beriman dan Shalih saja yang bisa melihatnya.

Dari sekian banyak yang melihat ke dalam topi itu banyak yang mengaku melihat Surga dan bidadari tetapi banyak juga yang tidak bisa melihat sama sekali.

Mereka yang tidak bisa melihat berkesimpulan "Abu Nawas telah berbohong"

Mereka pun melaporkan Abu Nawas ke raja, dengan tuduhan telah menebarkan isu kebohongan di tengah-tengah masyarakat.

Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untuk diadili. 

Dalam Sidang Pengadilan Raja

RAJA : "Benarkah di dalam topimu bisa terlihat surga dengan bidadarinya....?”

Abu Nawas : "Benar paduka Raja, tetapi hanya orang yang beriman saja dan shalih yang bisa melihatnya. Sementara yang tidak bisa melihatnya, berarti dia belum beriman dan tidak Shalih. Kalau paduka Raja mau menyaksikannya sendiri, silahkan...”

RAJA : "Baiklah, kalau begitu saya mau menyaksikannya sendiri....”

Sudah pasti Raja tidak melihat surga apalagi bidadari di dalam Topi Abu Nawas. 

Raja berpikir, kalau ia mengatakan tidak melihat surga dan bidadari, berarti ia termasuk tidak beriman, maka akan berakibat bisa merusak reputasinya sebagai Raja.

RAJA : (setengah berteriak dan pura-pura kagum). “Engkau benar Abu Nawas, aku menyaksikan Surga dan Bidadari di dalam topimu...!!!"

Maka Rakyat yang menyaksikan reaksi Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa dan tak ada lagi yang berani membantah Abu Nawas.

Mereka takut berbeda dengan Raja dan khawatir di cap belum beriman dan tidak shalih...

Konspirasi kebohongan yang ditebar oleh Abu Nawas, mendapat legitimasi dari Raja.

Abu Nawas : (dalam hati tertawa sinis sambil bergumam)..." 

beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.

Ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “benar.”

Ketakutan untuk berbicara jujur, juga karena faktor gengsi. Gengsi dianggap belum beriman atau dengan alibi atau alasan lainnya. Padahal, label gengsi itu hanyalah rekayasa opini publik yang dipenuhi dengan kebohongan.

Kepercayaan diri sebagai pribadi yang mandiri untuk berkomitmen pada kebenaran berdasarkan prinsip kejujuran telah dirontokkan oleh kekhawatiran label status yang sesungguhnya sangat subyektif dan semu.

Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran.

Akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran dan keberanian, takluk di bawah kecerdikan yang dilakonkan dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri meski pun itu adalah kebohongan yang besar dan nyata.

Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas ini, mungkin telah terjadi disekitar kita. Tentu dengan aneka versinya. 

Bagaimana dengan kondisi kita saat ini dan kemarin, hari ini dan esok lusa...???

Hanya kita sendiri yang dapat mengubah sikap kita ini...

Tampaknya sekarang kita hidup seperti di era Abu Nawas 

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sikap Mukmin yang Bijak Di Saat Naiknya Harga BBM

 Sikap Mukmin yang Bijak Di Saat Naiknya Harga BBM Akhir-akhir ini, kita sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang cukup pelik. Mulai dari ...